Jumat, 07 Agustus 2015

I am A Stronger Woman

Sakit itu pernah ada. Membekas. Tidak akan pernah hilang. Karena, dia yang telah melemparkannya padaku. Dan, karena itu pula aku sempat membencinya. Hingga berbagai sumpah serapah keluar dari bibirku. Sungguh! Dia adalah orang yang paling jahat yang pernah kutemui seumur hidup ini. Tetapi, berkat dialah aku mengerti kerasnya hidup. Dia yang telah membuka mataku pada dunia yang sesungguhnya.
Langit September tahun ini selalu terlihat gelap. Siap menumpahkan beningnya kapan saja. Aku melirik arloji yang melingkar di tanganku. Sudah lewat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Dia selalu saja begini, tidak pernah tepat waktu. Aku mulai lelah dengan sikapnya yang tidak pernah berubah.
“Sudah lama, ya?” Suara bariton itu menghentikan penantianku.“Maaf, ya. Ada urusan mendadak,” lanjutnya.
Aku menoeh, “Tidak apa-apa. Ada perlu apa kamu mengajakku bertemu di sini?”
“Besok ulang tahunmu, kan? Aku ingin kita merayakannya bersama. Kamu mau?” Tanyanya dengan penuh harap.
Sekilas, aku seperti melihat kilatan nakal di matanya. Tapi, segera kubuang jauh-jauh. Dia… pria yang duduk di sampingku ini sudah berjanji akan merubah sikapnya. Sedikit demi sedikit.
“Iya. Boleh.”
Ia meloncat kegirangan, “Kalau begitu, besok aku jemput jam 8 malam. Oke?”
Malam? Kenapa harus malam? Tidak bisakah kita merayakannya di siang atau sore hari saja
 Tiba-tiba, berbagai pikiran negatif berputar di kepalaku. Takut. Sikapnya. Teman-temannya. Pergaulannya. Semua tentangnya selalu berhasil membuat bulu kudukku meremang.
“Jam 8 malam?” Aku mencoba bernegosiasi dengannya.
“Iya. Kenapa? Ayolah, San. Untuk kali ini saja. Kamu sudah dewasa, bukan anak SMA lagi.”
Aku menunduk, pasrah. Satu lagi sifat buruknya keluar. Selalu tidak ingin dibantah. Apapun keputusannya, aku harus berkata ‘iya’. Pernah aku berkata 'tidak’ atas keinginannya yang lain. Satu kali. Dan itu sudah cukup membuatku untuk menghilangkan kata 'tidak’ dalam kamusku.


Di atas sana, langit telah membentangkan jubah hitamnya. Beberapa sinar keemasan membuatnya tampah cantik. Di depan televisi, di ruang keluarga, aku terus meremas pinggiran bantal di pangkuanku. Berharap dapat melenyapkan kegelisahan. Kulihat Abang yang berjalan mendekati pintu. Membukanya. Lalu, tersenyum pada sang tamu.
“Bagas? Mau jemput Sandra?”
Aku menegakkan kepala saat mendengar namaku disebutkan. Sekali lagi, aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Belum sampai langkahu saat mendekati mereka, Abang sudah lebih dulu menahan tangannku.
“Kamu yakin mau jalan dengan dia? Berdua? Tidak mau abang temanin?” dapat kurasakan kecemasan dalam setiap kata-katanya.
“Aku bisa jaga diri,” jawabku, yakin. Lantas melepaskan tangannya.
Sepi lebih mendominasi perjalanan kami. Hanya suara angin yang mengelus wajah, sesekali terdengar. Debar jantungku kian menggila, bersama jarak yang kian menebal. Aku terperangah saat ia menghentikan motornya di parkiran club malam. Tiba-tiba saja, dingin menyelimuti tubuhku.
“Ini… kamu… tidak salah, kan?” Tanyaku, sedikit terbata.
“Ngga. Kenapa?”
Aku seakan kehabisan udara saat mendengar jawabnya yang meluncur dengan santai. “Kamu… gak serius, kan, Gas?”
“Sudahlah. Ayo, kita masuk.” Tanpa ba-bi-bu lagi, dia menarik lenganku dan menuntunku memasuki gedung gelap dengan sinar pelangi itu.
Entah apa yang kurasakan saat itu. Suara dentuman musik yang memekakkan telinga. Beberapa orang yang melanggak-lenggok tak tentu arah. Tertawa lepas, seakan tak mengenal beban. Dan… diriku yang basah, berselimut keringat dingin. Segelas soft drink di hadapanku tak kusentuh barang seujung jari. Bagas pun sibuk bercengkrama dengan teman-temannya, tanpa mempedulikan keadaanku.
Aku berdiri, perutku mendadak mual melihat aktivitas di sekelilingku. “Aku mau ke toilet,” ucapku singkat. Dan berlalu meninggalkan Bagas bersama teman-temannya.
Lagi-lagi langkahku terhenti begitu saja. Mual di perutku semakin menggila. Ditambah kepalaku yang mulai terasa berat. Pemandangan apa lagi ini? Sedang apa mereka? Berpelukan… ah, entahlah. Gegas, kutinggalkan tempat itu dan menghampiri Bagas.
“Aku mau pulang,” ucapku, begitu sampai di hadapannya.
“Apa? Kenapa?” Wajahnya mulai mengeras. Aku tahu dia paling benci ditentang. Tapi, aku benar-benar sudah tidak sanggup dengan tingkahnya.
“Tidak masalah kalau kamu tidak bisa mengantar. Aku bisa pulang sendiri,” segera kuambi angkah panjang, meninggalkan Bagas yang berkali-kali meneriaki namaku.
Malam ini adalah kado ulang tahun terburuk yang pernah kudapat. Dan aku tidak akan melupakannya. Akan kujadikan peringatan atas sikap-sikap Bagas terhadapku. Balasan atas kebaikanku yang berniat membantunya untuk merubah semua kebiasaan buruknya.
Enam buan berlalu tanpa jejak. Tidak ada kepastian atas hubunganku dengan Bagas. Semua kubiarkan begitu saja. Karena semua sudah berakhir.


            Oktober berlalu bagai helaan angin.
Siang itu, aku menelusuri jalan di dekat kampusku dengan ritme lambat. Otakku sibuk memikirkan satu nama. Pria yang dalam beberapa buan ini terus mengejarku dan memaksakan perasaannya terbalaskan olehku. Lau, tak tahu dari mana asalnya, sebuah mobil berwarna gelap berhenti tepat di sampingku. Seorang pria keluar dengan terburu-buru dan membekapku dari belakang. Kaget. Aku hanya bisa berdiam diri. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semuanya gelap.
Satu hal yang aku tahu, aku terbangun di sebuah ranjang tanpa sehelai kainpun, hanya ditutupi dengan selembar selimut putih. Dengan wajah basah, segera aku mengedarkan pndanga. Kosong. Tak ada seorangpun. Lalu, tiba-tiba saja daun pintu kamar mandi tak jauh dariku terbuka. Seseorang yang sangat kuhapal wajahnya keluar dengan memakai bathing suit. Dia… pria yang menghantuiku beberapa bulan belakangan. Pria yang sakit hati karena cintanya yang kutolak.
“Sudah bangun, sayang?” Tanyanya, lembut. Namun, terdengar menjijikkan di telingaku.
Oh, Tuhan. Apa lagi ini?Apa salahku?
Hujan semakin deras membasahi wajahku. Hancur sudah hidupku. Masa depanku berubah gelap, seakan kehilangan mataharinya. Benci. Aku membenci mereka yang hanya merusak hidupku.
Satu bulan berlalu. Semua hanya kuhabiskan dengan berdiam diri di kamar. Menangis, lalu tersenyum sinis. Membuat keluargaku semakin kalut dengan keadaanku yang tak menentu. Mereka lalu membawaku ke rumah sakit. Aku hanya tersenyum miring memandang dokter ahli kejiwaan yang duduk di hadapanku.
What’s going on, here? Mereka menganggapku sudah tidak waras lagi? Hey, orang-orang yang sudah menghancurkan hidupku itu yang sudah kehilangan akal sehatnya!
Pulangnya, aku diberi beberapa obat penenang. Entah apa akan berfungsi untuk menenangkan hatiku yang sudah terlanjur hancur.
“Tunggu sebentar, ya. Bunda ambilkan air putih dulu,” setetes air mata meluncur di pipinya. Tak tahu sudah berapa banyak air mata yang beliau tumpahkan.
Sekelebat bayangan tentang kejadian-kejadian mengerikan itu kembali menampakkan diri, membuatku hampir frustasi. Detik berikutnya, tak tahu mendapat bisikan dari mana, aku meraih sebuah benda yang tergeletak di atas meja, di samping ranjangku. Kutatap benda itu penuh permohonan. Perlahan kuayunkan tanganku yang menggenggam benda itu, seraya berdoa atas sebuah cara yang kuyakini akan menghilangkan rasa sakit di hatiku, tanpa bekas. Nyaris saja benda itu melakukan tugasnya dengan baik, kalau saja Abang tidak merampas dan membuangnya.
“Apa-apaan kamu ini? Jangan main-main dengan pisau itu. Kamu bisa kehilangan nyawamu!” Bentak Abang. Wajahnya memerah menahan amarah.
Aku memandangnya sendu. Berharap ia mengerti lelah yang kurasakan. Tetapi, ia justru terduduk di hadapanku.
“Kumohon, satu kali saja. Biarkan Abang mendatanginya, memberikan rasa sakit yang setimpal,” lirih, ia memohon kepadaku.
Aku ingin. Sangat ingin melihat mereka merasakan sakit yang sama sepertiku. Tapi, apa itu bisa menghilangkan semua yang terjadi padaku? Tak ada jawaban yang kuberikan. Hanya air mata yang terus mengalir di wajahku, dan kini juga di wajahnya.
Aku seperti tidak mengenal malam, pun mimpi. Hidupku sudah terlalu kelam dan semua yang terjadi bagai mimpi buruk. Tak tahu sudah berapa kali aku mencoba memutuskan napasku, tapi semua usahku selalu berhasil digagalkan. Lelah yang menggelayutiku, semakin memberatkan tubuhku. Aku semakin tak dapat berbuat apa-apa. Untuk berdiri saja, sungguh sulit rasanya.
“Ayolah, San. Abang tahu kamu kuat. Bangun dan perlihatkan pada mereka betapa kuatnya dirimu.”
Sepanjang hari, kalimat yang pernah diucapkan saudaraku itu terus menggema di telinga dan pikiranku. Sedikit demi sedikit aku mencoba untuk berdiri, walau langkahku masih terseok-seok. Kuat. Aku harus kuat. Akan kuperlihatkan pada mereka bahwa keinginan mereka untuk membunuhku secara tidak langsung itu bukanlah hal gampang. Dan nanti akan ada waktunya untukku membalaskan semua perbuatan yang pernah mereka lakukan padaku.
Waktu terus berlari dengan cepat, aku terus berusaha menjajarinya. Ketika suatu waktu, Tuhan mempertemukanku kembali pada salah satu manusia tak berhati yang datang dalam hidupku. Dengan santai, tanpa dosa ia masih saja merayuku. Menggodaku lebih dari sebelumnya.
“Sudah lama tidak jumpa. Bagaimana kabarmu, sayang?”
Hampir saja lengan kotornya itu melingkar di bahuku, sebelum aku berhasil menamparnya. Hah, kenapa tidak dari dulu saja aku melakukannya kalau tahu rasanya sebahagia ini?
“Sakit? Ohh...” Ucapku santai, dan berlalu dari hadapannya. Namun, setelah beberapa aku melangkah menjauhinya, rasa sesa menghampiriku. Ah, kenapa tidak sekalian saja kucongkel matanya dengan stiletto yang kupakai.
Dunia ini memang keras. Kejam. Tapi, itu hanya dirasakan untuk mereka yang menyerah pada hidup. Aku memang pernah terjatuh. Cukup dalam. Sakit. Tapi, aku bisa bangkit. Karena mereka yang membutuhkan dan sayang padaku lebih banyak dan kuat dari hidup ini.
Teruntuk mereka yang pernah berusaha menghancurkan, bahkan mungkin membunuhku. Terima kasih. Berkat kalian aku seperti ini, mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Berkat kalian, aku bisa berdiri tegap di atas kakiku sendiri. Kuat. Kokoh.


[Sepenggal curahan hati dua anak Adam yang difiksikan .]




Well, ceritanya rada garing. Tapi, ya, kalo kata kakak—yang ceritanya aku pinjam—itu; lumayanlah daripada lumayun. :D

Minggu, 18 Januari 2015

Terlambat


“Apa kau menyukaiku?”
Entah sudah berapa kali kau bertanya seperti itu padaku. Namun, aku  tak pernah menanggapinya. Takut. Hingga aku memilih buta dan menutupi rasa. Semua karena kau baru saja datang kepadaku. Tapi, kali ini kulihat kau mulai goyah. Seolah sadar dan bosan dengan pilihanku yang tidak adil. Hingga kau benar-benar terjatuh dan berbalik, meninggalkanku.
Agaknya karma ikut geram melihat aku yang tak kunjung sadar. Ia pun datang dengan sebilah pisau sebagai balasan, berupa sosokmu yang bahagia bersamanya—penggantiku. Dan aku pun terjatuh, jauh lebih dalam darimu. Namun, aku tidak dapat berbuat banyak. Selain berusaha bangkit dengan wajah basah, bergelimang penyesalan.
Kini, walaupun kau berdiri tepat di hadapanku, aku tidak lagi dapat meraihmu. Karena jarak tak kasat mata yang semakin melebar diantara kita.

Ditulis bersama lantuntan lagu Maudy Ayunda - Cinta Datang Terlambat

Rabu, 14 Januari 2015

Entah Sedih atau Bahagia.


[Diikutkan dalam lomba ultah ke-4 Penerbit Haru]



Pagi yang cerah untuk hari yang spesial. Suara kokok seekor ayam yang baru saja bertambah usia terdengar lebih merdu dari kandang barunya—hadiah ulang tahun dari sang pemilik untuk ulang tahunnya yang keempat.
Seorang pria paru baya datang, dan membuka pintu kandang tersebut dengan sebuah senyuman, “Hallo, Haru. Bagaimana tidurmu? Pasti nyenyak, bukan?”
Haru, ayam itu mengepakkan sepasang sayapnya dengan riang, seolah mengatakan ‘Tentu saja, Tuan. Mimpiku lebih dari kata nyenyak’. Ia pun lantas dikeluarkan dari kandangya dan dibiarkan bergabung bersama teman-teman ayam lainnya. Berlari ke sana-kemari, berkokok, mematuk, dan bermain bersama.
Haru pun menceritakan tentang kandang barunya. Tentang betapa luas, nyaman, dan bagusnya kandang itu. Teman-temannya mendengarkan setiap cerita Haru dengan rasa bahagia yang tak kalah luar biasa. Mereka juga membayangkan, jika saja mereka dapat masuk dan bermalam di kandang Haru. Pasti menyenangkan!
Namun, entah mengapa Haru merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang janggal. Satu per satu temannya menghilang. Pergi dan tak kembali lagi. Haru pun merasa kehilangan dan mulai kesepian. Ia lantas berjalan ke dengan lunglai lalu teduduk pasrah. Ini hari bahagianya, lalu mengapa teman-temannya pergi begitu saja tanpa pamit dan tidak kembali lagi?
Hari beranjak sore, teman-teman Haru pun tidak ada yang kembali menampakkan diri. Kini, ia tinggal sendirian di tempat bermain tersebut. Sesekali, ia berkokok, seolah memanggil teman-temannya. Namun, tidak ada satupun yang menyahut. Pria paru baya itu kembali menghampirinya, menggendongnya dan membawanya kembali masuk ke dalam kandang. Haru hanya menurut dalam diam.
Lalu, sebelum menutup pintu kandang, pria tersebut menundukkan kepalanya seraya tersenyum, “Mulai besok kau akan menemukan teman-teman baru. Karena hari ini teman-temanmu sudah beralih ke tangan pemilik yang baru, barangkali ada diantara mereka yang sudah berpindah masuk ke dalam perut. Entahlah. Tapi, Haru. Aku tidak akan menjual atau memotongmu sampai kapanpu, karena kau adalah ayamku yang paling istimewa.”

Minggu, 04 Januari 2015

Murderer


Dannis mematung di tempatnya berdiri sejak setengah jam yang lalu. Wajahnya sepucat mayat. Tubuhnya gemetar. Pandangannya terarah lurus ke depan. Lalu, tanpa ia sadari kakinya melangkah mendekati bibir laut. Samar-samar, ia merasakan dingin di kakinya karena basah terjilat air laut. Namun, ia terus saja melangkah pasti.
Sesak di dadanya kian menebal. Membangkitkan sebuah kenangan yang sejak lama terus berusaha dibuangnya. Dan, selalu gagal. Perlahan, suara itu mulai terdengar, diikuti wajah yang begitu dirindukannya yang mulai terlukis jelas di hadapannya. Pemuda itu terus menyusuri laut dengan mata yang mulai memerah.
“Ayo, sini. Tangkap aku!” Seru seorang gadis dengan baju setengah basah.
“Awas kamu, ya. Kalo ketangkap nanti gak bakaln aku lepasin,” ancam pemuda tersebut, sembari terus berusaha mengejar kekasihnya.
Sepasang remaja yang tengah asik menikmati indahnya cinta itu masih saja berlarian, tak peduli dengan berbagai suara yang yang meneriaki mereka dari kejauhan. Berlari dan terus berlari, tanpa dapat dikendali. Sesekali, tawa mereka menggema diantaranya.
Pemuda itu terus berusaha mengejar gadisnya, walau napasnya kian memburu dan langkahnya kian berat. Tak berapa lama, langkahnya terhenti. Matanya melebar, memandang seuatu tepat di samping gadis tersebut.
“Laras, awas!” Teriaknya. Terlambat. Gadis tersebut sudah lebih dulu digulung ombak.
Wajah pemuda tersebut pun memucat saat dilihatnya tubuh gadis itu menghilang. Ditelan laut. Tak ada satu halpun yang dapat dilakukannya, selain berdoa; berharap agar kekasihnya segera ditemukan.
Waktu bergerak begitu lambat, baginya. Dua jam berlalu begitu saja. Namun tubuh Laras belum juga dapat ditemukan. Keringat dingin mulai menyelimuti tubuh pemuda yang tak pernah berhenti merapalkan doa dari pinggir pantai. Wajah-wajah yang sarat akan kepanikanpun tersirat dari mereka yang sempat meneriaki kedua remaja yang berlarian tak kenal arah tersebut.
Satu jam setelahnya, barulah tubuh pucat seorang gadis ditemukan jauh dari tempat semula ia berlari dan tergulung ombak. Bibirnya membiru, kulitnya mulai berkerut. Seakan tersengat ribuan volt listrik, pemuda tersebut segera menghampiri tubuh yang dibopong ke pantai dan segera dimasukkan ke dalam mobil ambulans.
“Dannis!” Ucap seseorang, sembari menahan lengan Dannis. “Lo gila apa? Hah? Mau bunuh diri?” Ditariknya tubuh yang tak lagi bertenaga itu ke pinggir pantai.
Dannis termenung mendapati hampir seluruh tubuhnya basah. Entah dengan cara apa ia dapat berjalan hampir ke tengah laut. Karena kenangan itu kah? Atau, karena ia seolah melihat wajah kekasihnya tengah tersenyum memandangnya di sana? Ia lantas terduduk di depan seoarang teman yang telah menyelamatkan nyawanya.
“Gue bukan pembunuh. Bukan gue yang ngebuat Laras meninggal...” lirih Dannis mengucapkannya dengan wajah yang basah karena rintik di matanya.
Rasa penyesalan itu masih menggelayutinya. Bukan menghantuinya. Kalau saja ia dapat menyelamatkan Laras saat gadis itu hampir tergulung ombak, mungkin dia tidak akan meninggal dalam perjalan menuju rumah sakit. Mungkin gadis itu masih di sini, di sampingnya. Menemaninya, bukan menghantuinya.

Tumbal

Sosokmu tak lagi ada menemani, namun di setiap pandangan, kamu seolah hadir di dalamnya. Tersenyum, tertawa, bercanda gurau, seperti biasanya. Rasa kehilangan yang belum terobatilah yang membuatmu selalu ada dalam hari-hari kami. Tak terkecuali aku yang menganggapmu spesial dibanding yang lainnya. Karena kamu berbeda.
Tumbal? Apa benar itu nyata adanya? Aku percaya kita hidup berdampingan dengan dunia lain yang tak kasat mata. Tapi, tumbal? Sesuatu atau seseorang yang dikorbankan agar mereka—yang tidak tampak—tidak marah pada kita. Apa itu benar? Entahlah.
Lalu entah mengapa, tiba-tiba saja kamu menjadi salah satu diantara mereka. Menjadi yang dikorbankan demi mereka yang tidak mengerti. Aku berusaha untuk tidak memercayainya. Pun mereka; keluarga, kerabat, sahabat, dan merka yang lainnya. Namun, kehadiranmu telah membenarkan semua yang kami tolak. Tubuh pucat yang terbujur kaku itu telah memecahkan bendungan yang terus kami coba tahan agar tidak tumpah.
Kamu telah tiada. Kamu telah dikorbankan. Tumbal.
Sore itu, dalam usahaku untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah karena menunggu, dan berujung pada sebuah tangisan. Samar-samar, pendengaranku menangkap sebuah pembicaraan yang bertemakan kamu.
"Dia berencana untuk mancing bersama dua temannya. Padahal, baik dia ataupun istrinya tidak suka memakan ikan jenis yang ia inginkan itu. Tetapi, ia tetap saja memilih pergi."
Tiba-tiba, siluet dirimu menari di hadapanku. Beraksi sesuai apa yang mereka ceritakan. Dan aku hanya diam, menikmatinya.
"Dan teman-temannya bilang, dia sempat shalat isya tak jauh dari tempat pemancingan tersebut. Dan sebelumnya pun, ia menyempatkan diri makan malam bersama istrinya di rumah."
Siluet itu terus saja beraksi, tak peduli dengan wajahku yang mulai basah terguyur bulir bening. Sembari aku menikmati bayangmu, pikiranku melayang jauh. Memikirkan alasan logis apa yang membuatmu hilang dua hari satu malam, hingga akhirnya kamu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Padahal, seingatku kamu pandai dalam olahraga renang.
Kini, sosokmu hanya tinggal kenangan. Tersimpan rapi di hati setiap orang yang menyayangimu, termasuk aku. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba berdiri. Denyut di kepalaku kian menggila. Tubuhku terasa berat. Tapi, aku ingin mendengar alasan yang sesungguhnya. Bukan celotehan tak berarti.
Perlahan, kuayunkan kaki dengan langkah berat menuju dapur, tempat keluargaku berkumpul. Kulewati mereka yang terus membicarakanmu begitu saja. Lalu, tiba-tiba....
"Galih tadi minta maaf. Dia bilang, dia lupa untuk memberitahu peringatan dari hantu air itu. Sudah sejak lama ia diberitahu untuk memberikan apa yang hantu air itu pinta. Tetapi, ia tak kunjung memberikannya, hingga akhirnya Argalah yang menjadi korbannya."

Tubuhku mematung, seketika. Menegang, seolah tersengat jutaan lebah. Kamu... karena itukah kamu meninggalkan kami semua? Aku benar-benar tidak dapat memercayainya.

#Challage
#KampusFiksi

#KabarDariJauh